RSS

PUASA SUNNAH

1896862_1511033609161815_1358829717987105837_n

Oleh Von Edison Alouisci

A.   PENDAHULUAN

Menurut bahasa shiyam atau berpuasa itu berarti menahan. Sedangkan yang dimaksud menurut istilah, ialah menahan diri dari segala apa juga yang membatalkan puasa, semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat.
Dari Sahl bin Sa’ad, bahwa Nabi saw. Bersabda:

” إِنَّ لِلْجَنَّةِ بَابًا، يُقَالُ لَهُ : لرَّيَانُ ، يُقَالُ يَوْم َالْقِيَامَةِ : أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ ؟ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ ذلِكَ الْبَابُ ”
(رواه البخاريّ و مسلم)

“Sesungguhnya surga itu mempunyai sebuah pintu, disebut ‘Raiyan’ – artinya basah melimpah -. Dipanggil pada hari kiamat: ‘Hai, mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu bila orang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itupun ditutupla.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Puasa itu dibagi menjadi dua jenis, yaitu puasa fardhu dan puasa sunah atau puasa tathawu’. Puasa fardhu ada tiga macam yaitu:
1.      Puasa Ramadhan
2.      Puasa Kafarat
3.      Puasa Nadzar
Dalam makalah ini akan membahas tentang macam-macam puasa sunah atau puasa tathawu’.
Jika dalam makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan kami mohon kritik dan sarannya guna untuk memperbaikinya.

B.   PUASA SUNAH (TATHAWU’)

Tathawu’ artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amal ibadah yang tidak diwajibkan. Ada beberapa macam puasa sunnah (tathawu’) antara lain sebagai berikut:
1.      PUASA SEHARI DAN BERBUKA SEHARI (SELANG-SELING)
Puasa ini merupakan jenis puasa tattawu’ yang paling utama. Berdasarkan hadist yang terdapat dalam kitab Ash-shahihain, yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amar, Rasulullah saw. bersabda:
أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ, وَاَحَبُّ الصَّلاَةِ اِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ, كَانَ يَنَامُ نِصْفَهُ، وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا .

“Puasa yang lebih disukai oleh Allah, ialah puasa Daud, dan sholat yang disukai oleh Allah, ialah sholat Daud. Ia tidur seperdua malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”
2.      PUASA TIGA HARI DALAM SETIAP BULAN
Dalam puasa jenis ini, yang lebih utama ialah berpuasa pada tiga hari bidh, yakni pada tanggal 13, 14, dan tanggal 15. Ketiga hari ini dinamakan bidh karena malam hari pada ketiganya diterangi bulan dan siang harinya diterangi matahari. Pahala puasa jenis ini seperti puasa dahr, yakni pelipat gandaan. Satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali kebaikan.
Dalil puasa ini adalah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dzar, beliau mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda kepadanya:
اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنْ نَصُوْمَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، الْبِيْضَ: ثَلاَثَ عَشَرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشَرَةَ، وَخَمْسَ عَشَرَةَ. وَقَالَ: هِيَ كَصَوْمِ الدَّهْرِ. (رواه النسائ و صحّحه ابن حبّان)
“Kami dititah oleh Rasulullah saw. agar berpuasa sebanyak tiga hari setiap bulan, yakni pada hari-hari cemerlang: Tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas. Sabdanya, bakwa itu seperti puasa sepanjang masa.”
(Riwayat Nasa’I dan disahkan oleh Ibnu Hibban)
3.      PUASA PADA HARI SENIN DAN KAMIS
Puasa ini berdasarkan perkataan Usamah Bin Zaid yaitu: Sesungguhnya Nabi saw. Berpuasa pada hari senin dan kamis. Lalu, ketika beliau ditanya mengenai hal itu, beliau bersabda, “Sesungguhnya, amalan-amalan manusia di perlihatkan pada hari senin dan kamis.”
Dan pada Shahih Muslim tercantum:
أَنَّهُ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلإِثْنَيْن؟ فَقَالَ: “ذَاكَ يَوْمُ وُلِدْتُ فِيْهِ، وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ”.
“Bahwa Nabi saw. Ditanyai orang tentang berpuasa pada hari Senin, maka sabdanya: ‘Itu adalah hari kelahiran saya, dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepada saya’.”
4.      PUASA ENAM HARI PADA BULAN SYAWAL
Diriwayatkan oleh jama’ah ahli hadist, kecuali Bukhari dan Nasa’i, dari Abu Ayub al-Anshari bahwa Nabi saw. Bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ “”

“Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringi dengan enam hari bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa sepanjang masa.”[1]

Menurut Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut, dan tak ada kelebihan yang satu dari lainnya. Sedang menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i lebih utama melakukan berturut-turut yaitu sesudah hari raya.
5.      PUASA PADA HARI ‘ARAFAH
Puasa hari ‘Arafah yaitu puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah bagi orang yang sedang tidak melakukan ibadah haji.
Diterima dari Abu Qatadah r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ، يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ، مَاضِيَةً وَمُسْتتَقْبِلَةً، وَصَوْمُ يَوْمِ عَاشُرَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً . (رواه الجماعة إلاّ البخاريّ و التّرمذى)

“Puasa pada hari ‘Arafah, dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang berlalu dan tahun yang akan dating. Dan puasa hari ‘Asyura menghapuskan dosa tahun yang lalu.”
(Diriwayatkan oleh Jemaah kecuali Bukhari dan Turmudzi)

Adapun orang yang melakukan ibadah haji tidak disunahkan berpuasa pada hari ‘Arafah. Bahkan justru disunahkan berbuka pada hari itu, meskipun kuat berpuasa. Hikmahnya, agar dia semakin kuat dalam berdoa.

6.      PUASA DELAPAN HARI PADA BULAN DZULHIJJAH
Penyunahan puasa ini berlaku bagi orang yang melakukan ibadah haji ataupun yang tidak melakukan ibadah haji. Puasa ini disunahkan berdasarkan perkataan Hafshah berikut:
“Empat hal yang tidak ditinggalkan Rasullah saw. adalah puasa ‘Asyura, puasa sepuluh hari (Dzulhijjah), puasa tiga hari dalam setiap bulan, dan dua rakaat sebelum subuh.”

7.      PUASA PADA HARI TASU’A DAN ASYURA
Puasa ini disunahkan lagi (akan lebih baik) jika keduanya dilakukan secara beruntun. Disunahkan puasa pada kedua hari ini didasarkan atas hadist marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. berkata:
“Tatkala Rasulullah saw. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan menitahkan orang agar mempuasakannya, mereka berkata: ‘Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nasrani’. Maka ujar Nabi: ‘Jika darang tahun depan, insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’.”Maka belum lagi dating tahun depan itu, Rasulullah saw. pun wafatlah.”
Seseorang yang berpuasa Tasu’a tanpa puasa ‘Asyura, menurut Madzhab Syafi’i disunahkan berpuasa pada tanggal 11 Muharram. Bahkan imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm dan Al-Imla’ lebih menegaskan mengenai disunahkanya puasa pada ketiga hari tersebut.

8.      PUASA PADA BULAN-BULAN SUCI

Yang dimaksud dengan bulan-bulan suci, ialah bulan Dzulkai’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Pada bulan-bulan ini disunahkan banyak berpuasa. Keempat bulan ini merupakan bulan-bulan yang utama untuk puasa setalah bulan Ramadhan.
Diterima dari seorang laki-laki dari Bahilah, ceritanya:
“Bahwa ia datang menemui Rasulullah saw., katanya: ‘Ya Rasulullah, saya adalah laki-laki yang datang menemui Anda pada tahun pertama’. Ujar Nabi: ‘Kenapa keadaanmu telah jauh berubah, padahal dahulunya kelihatan baik’? Ujar laki-laki itu: ‘Semenjak berpisah dengan Anda itu, saya tidak makan hanyalah di waktu malam’. Maka tanya Rasulullah saw.: ‘Kenapa kamu siksa dirimu’? Lalu sabdanya: ‘Berpuasalah pada bulan Shabar – yakni bulan Ramadhan – dan satu hari dari setiap bulan’!. ‘Tambahlah buatku, karena saya kuat melakukannya’! ujar laki-laki itu. ‘Berpuasalah dua hari’! ujar Nabi. ‘Tambahlah lagi’! mohon laki-laki itu pula. Maka sabda Nabi: ‘Berpuasalah pada bulan suci lalu berbukalah’! kemudian berpuasalah pada bulan suci lagi lalu berbukalah’!. Sambil mengucapkan itu Nabi memberi isyarat dengan jari-jarinya yang tiga, mula-mula digenggamnya lalu dilepaskannya.”[2]
(Riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Baihaqi dengan sanad yang baik)
9.      PUASA PADA BULAN SYA’BAN
Rasulullah saw. Biasa berpuasa pada sebagian besar dari bulan Sya’ban. Kata ‘Aisyah:

“مَا رَأَيْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ، إِلاَّ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتَهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانٍ ” (رواه البخاريّ و مسلم)

“Tidak kelihatan oleh saya Rasulullah saw. Melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidak satu bulan pun yang hari-harinya lebih banyak dipuasakan Nabi daripada bulan Sya’ban.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

C.   KESIMPULAN

Puasa ialah menahan diri dari segala apa juga yang membatalkan puasa, semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat.

Tathawu’ artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amal ibadah yang tidak diwajibkan. Macam-macam puasa sunnah (tathawu’) antara lain:
1.      Puasa sehari dan berbuka sehari (selang-seling)
2.      Puasa tiga hari dalam setiap bulan
3.      Puasa pada hari senin dan kamis
4.      Puasa enam hari pada bulan Syawal
5.      Puasa pada hari ‘Arafah
6.      Puasa delapan hari pada bulan Dzulhijjah
7.      Puasa pada hari Tasu’a dan Asyura
8.      Puasa pada bulan-bulan suci
9.      Puasa pada bulan Sya’ban

Bebas Share.Copas.dan etika

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 3, 2015 in Puasa

 

Tag:

PENTINGNYA ILMU BERSANAD SEBAGAI JIDAL

Penulis Oleh Von Edison Alouisci

websitespribadi

http;//v-e-alouisci.blogspot.com
http://vonedison.blogspot.com

Renungan sebuah nasehat untuk selalu. Diingat.

Bismillahirokhmanirokhim

Selama kita tidak merenungkan nasehatdari seseorang maka kita tidak akan pernah bisa meresapi bait bait pesan yangdisampaikan.

selama kita tidak menyimak dengan benar,teliti,memikirkannya dengan hati yangjernih maka kita tidak akan bisa mengerti maksud maksud yang disampaikan orangorang yang berilmu.para ahli.ulama ulama yang credible.

Kita ambil contoh sederhana.. ketika seorang anak diajarkan ilmu fisika,kimiadan matematikan yang demikian rumit,dan sepanjang dirinya tidak focus,menyimakdengan sungguh sungguh maka ia tidakakan dapat menyerap pelajaran dengan benar .jika sudah demikian..dipastikan iatidak akan pernah paham dan tidak pula menjadi seorang murid yang cerdas danpandainya hanya mencontek kecerdasan orang lain.

Jika kita kembalikan pada persoalan agama yang lebih banyak mengajarkankeyakinan ketimbang perhitungan matematika maka jika seorang yang mengakudirinya islam dan tidak focus serta tidak menyimak dengan sungguh sungguh makaapa yang ia pahami hanyalah sebatas kulit luar dan belum menyentuh padapersoalan yang lebih dalam.pandainya hanya mencontek .Mottonya “yang penting beres dan ada jawaban”. ia tidak paham isinya sesungguhnya yang iacontek yang penting dikatakan betul oleh orang lain padahal ia bodoh.

Orang semacam ini mengukur kebenaran hanya sebatas apa yang ia pahami secaraumum sebagaimana seorang anak sekolah hanya paham beberapa bagian ilmu matematika,kimiadan fisika namun tidak banyak.seoarang guru akan mengukur dirinya dengan nilaidibawah angka 6.

nah bagaimana bisa dikatakan orang islam yang cerdas jika hanya paham kulitluarnya saja sementara ajaran islam ituluas dan banyak jika di tela`ah satu persatu ??

kita jangan merasa kemampuan yang kitamiliki sudah benar semuanya.masih banyak hal yang kita tidak tahu dan masihperlu bimbingan.dan seorang ulama besarpun bahkan masih menganggap ilmunyabelum seberapa padahal secara umum ia diatas rata rata orang kebanyakan.dantentu adalah lucu jika kita orang orang awam sudah merasa sebagai ahlinya padahal pengetahuan hanyabaru standar standar saja.

Pernahkah anda berfikir demikian ???

Maka dengarkanlah,perhatikanlah,simaklah dengan baik baik penjelasan ulamaulama bersanad dan ahlinya yang paham karna bisa jadi pada titik itu kitasesungguhnya belum sampaipengetahuannya.
dan seharusnya kita orang awam banyak banyak berterimakasih karna masih adaorang lain yang sesungguhnya memperhatikan kita dan mengajarkan apa yang kita belum tahu atau hanya baru tahusecara umum saja.

Soal berdebat ilmu pengetahuan :

satu hal lagi .debat ituterkadang terpuji dan terkadang tercela; terkadang membawa mafsadat (kerusakan) dan terkadang membawa mashlahat (kebaikan); terkadang merupakan sesuatu yang haq danterkadang merupakan sesuatu yang bathil.”kita harus cerdas dan cermatmembedakannya.

Jidal (adu hujjah) adalah masalah yang hukumnya belum pasti; dan untukmenentukan hukum tentang masalah ini, tergantung kepada kondisi yang ada.Sedangkan debat yang sesuai dengan syari’at, maka hukumnya terkadang wajib dan terkadang mustahab

yang tercela menurut kacamata syar’i adalah sesuatu yang dicela oleh Allah danRasul-Nya, seperti debat dalam rangka membenarkan yang bathil dan debat kusir(tanpa ilmu) dan mendiskusikan sebuah kebenaran yang jelas dan gamblang (seperti hukum wajibnyashalat dan lain-lain).

larangan para salaf dalam berdebat adalah yang dilakukan oleh orang yang tidakmemenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain) atauperdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti; berdebat denganorang yang tidak menginginkan kebenaran, serta berdebat untuk saling unjukkebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan.

Adapun debat yang sesuai syari’at (dalam rangka mendakwahi orang-orang jahil,atau dalam rangka sama-sama mencari kebenaran) adalah yang diperintahkan Allahseperti dalam firman-Nya,

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baikdan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl:125)

…dan ayat-ayat lain yang semisalnya. Bahkan justru merupakan sesuatu yang wajib atau mustahab (yang dianjurkan).Jidal (adu hujjah) seperti ini tidaklah dilarang dan tidak dicela oleh syari’at yang mana satu sama lain dalam dialogmengedepankan adab dan akhlak ketika Jidal.

kita harus mencermati hal ini agar tidak keliru dan ingat para ulama terdahulujuga berdebat namun dengan tindakan dan cara yang baik serta di dukung pengetahuanyang cukup sebagai hujah ,bukan debat kusir sebagimana orang awam yang kusebutsebelumnya, baru paham kulitnya saja namun merasa ahlinya.baru memahmisebagian kecil ilmu ilmu syar`I namunngotot merasa pendapatnya benar padahal terkadang yang dikemukakan orang lainitu justru suatu yang baru kita ketahui.(alias selama ini tdak tahu dalilnyakecuali yang itu itu saja)
orang terkadang lupa jika tidak semua dalil dipahami semua .maka adalahlayak kita mencermati dalil hujjah orang lain karna mungkin pada titik itu kitabelum tahu apa apa atau belum sampai menguasainya.

ingatah..ada orang menguasai imu ilmu figh namun belum tentu ia paham ilmuakidah. Ada orang yang paham ilmu akidah namun belum tentu paham semua ilmufigh.ada orang yang paham keduanya namun belum tentu ia paham sejarahnya.adaorang yang paham ketiganya namun belum tentu ia menguasai kaidahbahasa-nya.maka janganlah merasa kita sudah ahlinya padahal dlm ilmu lain kitaterkadang masih Awam bahkan tidak tahu apa apa.

Ingatlah ketika kita belum memenuhi Syaratmujtahid, ahli ijtihad maka kewajiban kita adalah belajar lebih banyak lagidengan ulama.ahli ahlinya dimana hukum sanad adalah penting agar tidak salahmendapatkan pengetahuan yang benar.ketika kita mengambil sumber pengetehuan dari para ulama tanpasanad maka kita terjerumus pada pengetahuan akal sang ulama itu sendiri bukan merujuk pada pendapat aslinya ulamaterdahulu.dan ini berbahaya karna padaakhirnya kita hanya mendapatkan ilmu dari pendapat ulama begini yang mengadaadakan pendapat yang bukan merujuk pada pendapat aslinya ulama tsiqohsebelumnya.

(kita ambil contoh dari kaum pengikutwahabi salafi,kaum khawrij dahulu,ahmadiyah,LDII atau sekte sekte sempalansebagai renungan dimana pengikutnya pada akhirnya mendapatkan ilmu pengetahuandari ulama tanpa sanad yang berujung pada kekuatan akal sendiri menentukansebuah kebenaran dan tidak lagi merujuk pada naskah aslinya pendapat salaf,tabiin dan tabiun.orangyang belajar dengan ulama ini hanya akan menganggapbenar pendapat ulama yang mengajarinya bukan lagi mengukur kebenaran denganpendapat kebanyakan ahli ulama secara luas dan banyak diikuti umat muslimumumnya)

Maka sebaiknya mari kita belajar dengan Mujtahid yang memenuhi memiliki syarat:

Syaratpertama, memiliki pengetahuan sebagai berikut:

1. Memilikipengetahuan tentang Al Qur’an dan berbagai kajian ilmu tafsirnya(bukan menafsirkan dengan akal sendiri)

2. Memilikipengetahuan tentang Sunnah dan segala disiplin ilmu pendukungnya termasuk pahampendapat pendapat aslinya para ulama terdahulu.(salaf,tabiin.tabiun dagenerasinya yang terkait sanad)
3, Memiliki pengetahuan tentang masalah Ijma’ sebelumnya.

Syarat kedua,memiliki pengetahuan tentang ushul fikih dari sumber yang kuat seperti ilmuhadits yang dalam ketetapan maksud maksudnya dijelaskan secara berkesinabunganmulai dari generasi awal hingga sekarang dan tidak ada perubahan untuk itukarna terkait sanad ilmu berantai.disinilah disebut ilmu ini murni sesuaiaslinya bukan telah di takhiskan oleh ulama ulama yang sama sekali tak punyasanad)

Syarat ketiga,Menguasai ilmu bahasa.(nahwu,shorof dan sejenisnya) yang diajarkan secara spesifik sehinggapaham dan tidak keliru mengartikanmaksud maksud dalam hadits dan quran.sekali lagi pedoman rujukan asli pendapatsahabat,tabiin dan tabiun dalam naskah aslinya adalah penting.jadi bukanberdasarkan pendapat,pendapat,alasan alasan akal ulama yang tidak merujukdengan jalan sanad sebagai hujjah.karna jika tidak ulama model ini bisa mengada adakan maksudsendiri padahal bisa jadi maksud sesungguhnya dari ulama terdahulu bukandemikian.

Pahamilah,Sungguh telah terfitnah dan menjadipenyebar fitnah banyak dari generasi muda sekarang ini dengan penyakit sukaberdebat kusir atau berbantah-bantahan. Mereka menyangka bahwa orang yangbanyak bicara dan berdebat dalam masalah agama adalah lebih alim dari orangyang tidak banyak bicara dan berdebat. Hal ini sungguh pemikiran yangdangkal karena komentar-komentargenerasi tabi’in lebih banyak dari pada komentar para sahabat, padahal parasahabat lebih alim dari tabi’in; dan begitu pula komentar-komentar generasitabiut tabi’in lebih banyak dari generasi tabi’in, padahal generasi tabi’inlebih alim dari generasi tabiut tabi’in.

Banyaknya ilmu itu tidak bisa diukur dengan banyaknya komentar dan riwayat,bukandiukur dengan akibat ia mendapatkan gelar S.AG. LC atau sejenisnya .ulamaterdahulu tidak perlu gelar untuk disebut ahli.banyak lulusan sarjana disegalabidang bahkan pengetahuannya standar standar saja dan hanya untuk mendukung usaha dunia semisal mudah bersaingcari pekerjaan dengan gelar sebagai syarat artinya kita jangan mudahterpengaruh hanya karna melihat orang punya gelar yang belum tentu dimasakuliahnya mendapat Rangking tertinggi cumlaude dan jenius dibidangnya.

Jika anda orang kuliahan cobalah koreksidiri letak keahlian anda.apakah sangat menguasai segala pengetahuan ?? apakah dengan modalpandai bicara dikatakan ahli ?? Renungkanlah.
seorang Einstein yang ahli teori relativitas justru tidak pandaipidato..seorang thomas alva Edison justru tidak pandai berdebat padahal ia ahlidengan pengetahuannya.seorang Ibnu Sina justru tidak pandai pengemukkan analisanya padahal ia ahli dalam perhitungnyan.seoarang Aljabarjustru tidak tahu mengemukakananalasinya secara gamblang padahal ia ahlinya metematika.banyak contoh contohlain bahwa gelar bukan ukuran untuk disebut ahli.orang terdahulu justru banyak mendapatkan penghargaan sesudah iamasuk ketegori ahli !! sekali lagiseorang ahli ulama bukan diukur pandainya dan banyaknya ia bicara atau gelar yang ia sandang.

Sesungguhnya ilmu itu merupakan cahayayang terpendam di hati. Dengan ilmu itu seseorang dapat memahami hakekat kebenaran dan dapat membedakan antara yang haqdan yang bathil dan kemudian dengan ilmunya dia bisa mengungkapkan secararingkas dan mudah difahami dan ia berikan pengetehuannya untuk kebaikanumat.ungkapan ringkas orang semacam ini mudah namun sesungguhnya punya bobotdan maknanya sangat luas.dan kita tidak bisa menjawabnya dengan caraspontanitas karna justru menunjukkanketidak mampuan kita memahami maksud yang ia sampaikan sesungguhnya.jika dengancara ringkas saja kta tidak bisa menangkap pesannya bagaimana mungkin kitapaham jika ia sampaikan dengan amat spesifik dan rumit ??? jika kita menelaa`hal yang rumit saja tidak nalar bagimana bisa memahami maksud yang disampaikandengan sederhana sebagai ringkasannya yang justru sebenarnya maknanya luas ?
artinya jelas jangan setengah setengah jika memang mau belajar.karna suatuperkara yang terlihat mudah bisa menjadi demikian rumit akibat ilmu pengatahuankita belum sampai kearah itu.

Rasulullah sendiri adalah orang yang diberikan oleh Allah, jawaami’ul kalim(ucapan-ucapan ringkas dan padat) dan berkata dengan perkataan yang pendek.Oleh karenanya terdapat larangan dari Rasulullah agar jangan banyak bicara danjangan menyibukkan diri dengan qila wa qola yakni tidak menyebarkan berita yangbelum pasti dan tidak berguna jika belum benar benar memahaminya dengan sungguhsungguh semisal perkara bid`ah(biasa dipersoalkan wahabi salafi.pen) yang sesungguhnya tidak cukup denganmodal satu atau dua dalil dasar yangkemudian di tela`ah dengan akal pribadi dengan segala contoh akal pribadi pula bukannya pendapat ulamacredible,bersanad dan terpercaya. Padahal masalah ini banyak sekali dalil dan pendapat para ulama terdahulu .iniyang terkadang muncul argument tanpa nash yang jelas atau debat kusir

Sesungguhnya secara syar`i adalah wajibbagi kita orang awam untuk lebih banyak belajar lebih dahulu dengan cara yangsungguh sungguh dari orang orang atau ulama yang memahaminya.Untukitu..perhatikanlah nasehat orang lain dengan menyimaknya baik baik bukanmemahaminya dengan hanya sepintas lalu.dan sekali lagi aku katakan..Ilmu agamaitu luas dan jangan merasa cukup dengan yang kita pahami sebagai landasan debatkusir yang sama sekali tidak ada manpaatnya karna sesungguhnya kebanyakan debatkusir hanya dilakukan oleh insan insanyang mempersoalkan suatu masalah namun ia tidak cukup mengetahui dalil hujahnya dengan pemahaman yang benar.Typebegini sering ngotot sudah benar padahal ia hanya paham itu saja dan belum pulamenyentuh semua dalil lainnya.

ingatlah terkadang setiap umat muslim menjalankan syariat agama tentu punyadasar hanya saja kita tidak tahu atau cahaya yang diletakkan oleh Allah pada hati kita belum sampai.maka itu janganlahukur kebenaran diri dengan apa yang belum sepenuhnya kita ketahui karna bisajadi syariat yang diamalkan orang lainjustru didasari pengatahuan yang cukup dari apa yang kita pahami selam ini.makakuncinya belajar lagi lebih focus dansungguh sungguh itu lebih baik sebelum mengatakan orang lain salah kecualimemang sudah jelas dan di dukung dengan pendapat ulama mu`tabar yang ilmunyatidak diragukan semisal ulama salaf,tabiin,tabiun dan ulama ulama yang sanadnyaterhubung dengan jelas bukannya ulama yang belum masuk ahli ijtihad atau tarafmustahij.

-Imam Malik t berkata, “Ilmu itu sesungguhnya bukan dengan sekadar banyakmenghafal riwayat, namun ilmu adalah cahaya yang diletakkan oleh Allah pada hati seorang hamba.” (Tafsir IbnuKatsir, 3/555)

AbuHayyan at-Taimi berkata, “Ulama itu ada tiga:
(1) seorang yang berilmu tentang Allah dan tentang perintah Allah ,
(2) seorang yang berilmu tentang Allah , namun tidak berilmu tentang perintahAllah , dan
(3) seorang yang berilmu tentang perintah Allah , namun tidak berilmu tentangAllah .

Maksudbeliau kalau boleh kujelaskan adalah begini :

Yang berilmu tentang Allah danperintah-Nya, dialah yang takut kepada Allah, sekaligus mengerti tentangsunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.

Adapunyang berilmu tentang Allah , namun tidak berilmu tentang perintah Allah , diaadalah orang yang takut kepada Allahl, namun tidak mengerti tentang sunnah-Nya,batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.

Sementaraitu, yang berilmu tentang perintah Allah , namun tidak berilmu tentang Allah ,adalah orang yang mengerti sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yangdiwajibkan-Nya, namun dia tidak takut kepada-Nya.” ( silahkan simak Jami’Bayani Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/47 untuk lebih jelas)

orangberakal tapi tak berilmu dengan ajaran yang benar maka sesungguhnya.. ia belum berakal sehat.
org yang kelewat byk akal belum tentu ilmunya sebenarnya cukup karna logikalebih utama ketimbang ilmu. Artinya org yang berilmu dgn akal sebagai tuntunansemata.maka ia cuma memiliki dalil akal.

ingat,Atheis anti agama pun cukup dengan akal jika hanyadengan logika semata namun belum tentu paham hakekat ilmu agama . Atheis dankaum kafir cukup berbantahan dengan akal sebagai dalil kebenaran dan ingatlahjanganlah kita berlaku seperti sikapkaum kaum kafir tidak tahu hukum agama sesungguhnya namun ngotot merasa benar hanya dengan modal akalyang terlintas dipikirannya.kaum yangkatanya berakal ini jelas tidak menggunakan akalnya dengan cara sehat dan masukakal sehingga sesungguhnya dialah yang kurang berakal namun PEDE-nyauntuk tetap ngeminter.tanyalah pada dirisendiri apakah kita masuk kategori ini ?? jika iya maka banyak banyaklahIstighfar.

Org yang sesunggunya berakal dgnilmu yang cukup sebagai tuntunan maka barulah disebut ia org yang berakal danberilmu.Dan dalam agama..jadikan ilmu mengendalikan akal dan hawa nafsu..bukan hawa nafsu dan akal mengendalikan ilmu lebih lebih ilmuyang masih dangkal karna akan muncul debat kusir.

contoh : ada orang mempelajari ilmutertentu misalnya pandai rakit BOM namun dengan akal dan hawa nafsunya iakemudian menggunakan Ilmunya untuk menghancurkan gedung membunuh orang.

contoh lain ada seorang yang mempelariilmu pengatahuan tentang bid`ah,syrik dan perkara kafir dari sumber ulama yang tidak credible.ia tidak pulamengkaji dan analisa pendapat ulama macam ini. Nah Orang semacam ini boleh juga disebut berilmu namun denganilmunya yang ia dapat dengan pemahaman yang salah maka dengan nafsunya pulatanpa sadar ikut aktip menyesatkan umat menyalahkan amal ibadah orang lainpadahal belum ahlinya karna sumbernya tidak ia teliti habis habisan sebelummengemukakan ulang pada orang lain.

Disinilah ia disebut insan yang tidakmampu mengendalikan ilmunya yang belum seberapa namun pada akhirnya dengan hawanafsunya sudah merasa ilmunya cukup dan merendahkan ibadah orang lain bahkan mengajakorang mengikuti pemahammnya yang masih dangkal itu.ini sama dengan mengajakorang salah jalan.menjerumuskan umat dengan paham yang keliru dengan modalpengetahuan yang belum semuanya ia gali.Na`uzibillah.

Jika kita bertemu dengan orang semacam ini maka sebaiknya kita harus tetapcermat dan teliti sebelum mengatakan “sukron akhi/uhkti atas pencintrongannya,yang sungguh ilmu yang bermanpaat” karnajika menela`ahnya dengan akal sendiri pula sebagai ukuran benarnya maka kitapunsesungguhnya masuk perangkap kekeliruan akibat tidak belajar dengan benar danitu artinya tanpa disadari kita mudah tertipu karna kebodohan kita sendiri.

Banyak memang kaula muda tertipu tapi tidak sadar jika diajarkan pemahaman yang salah.
Kaula muda inilah yan banyak menyebarkan pengetahuan dangkal orang itu padahal pendapatnyaitu kadang masih cacat sumber yang tidak diteliti ulang kaula muda jenisini.Siapa yang salah ??

“sudah bodoh ditipu namun membodohiorang, sudah diajarkan salah mengajarkan hal yang salah pada orang.ini samaartinya sudah kena fitnah namun memfitnah orang dan juga penerus ajaran yang salah”

kaula muda seperti ini jauh lebih berbahaya karna jika sudah salah jalansulit tobatnya.ia akan ikut ikutan ngotot bahwa dirinya benarpadahal sumbernya dari orang yang juga salah jalan dan belum valid pulasumbernya aslinya karna memang ia tidak menggali semuanya kecuali dari ulamayang ternyata juga cacat bahkan tidak punya sanad ilmu yang jelas..

KRONOLIGINYA kuberi contoh sebagai berikut agar lebih mudah :

A belajar dari B yang masih dangkalilmunya.

B belajar Ilmu dari C yang belum menguasai bidang pengetahuannya.

si C belajar dari D yang pemahamnnya tidak mengikuti petunjuk para ulama mu`tabar. sekalipun ia ngaku ustadzatau ustadzah

D belajar dari E sang ulama yang cacatdan menuai masalah bahkan banyak bertentangan dengan kebanyakan ulama. Mu`tabardan merasa dirinya sudah mujtahid.

E.mendapatkan pengatahuan menurut hasil ijtihadnya sendiri bahkan tidak samapendapatnya dengan para ulama terdahulu dalam konteks aslinya.(pendapatsahabat.tabiin sab tabiun yang valid)

Atau untuk jelasnya SANAD PENGETAHUANNYA TERPUTUS PADA TINGKAT INI lebih lebihia tidak berguru pula dengan ulama sebelumnya atau jika berguru.pendapatgurunya ia tentang padahal gurunya punyasanad ilmu yang jelas.disini ia tidak menjaga sanad dan memutuskan hukum sanad terhadap gurunya danmemilih pendapat sendiri (tidak menjaga amanah ilmu dari gurunya jika berguru)sehingga pandapatnya tentu tidak lagi sama dengan ulama ulama ulama besar jauhsebelumnya (Atsar sahabat,tabiin dan tabiun yang aslinya ).disini ia merasasudah sangat ahli ijtihad padahal banyak bertentangan.

Maka hasilnya.. adalah A.B.C.D. dan E ,pengetahuannya kacau dan keliru dansemuanya jadi tak punya sanad ilmu dantanpa sadar membuat syariat ajaran baru.(ahlul bid`ah dlololah /sesat karnasumbernya bukan lagi sumber ulama credible dalam semua hujjah)

ini awal menjadikan kelompok dengan paham yang tidakSAHIH.dan inilah pula contoh rangkaian terciptanya sebuah SEKTE/FIRQOH pemecah umat tanpa sanad ilmu diawal permulaanya yang tentu saja Tidak bisa dijadikanRUJUKAN pendapat pendapatnya sebagaipedoman kita menjalankan perintah Allah.

Terkait rangkain terciptanyasekte/firgooh yang kusebut diatas..Nabi saw bersabda:”Sesungguhnya akan keluar dari “orang ini/kaum khawrij” satukaum (kaum berikutnya.pen) yang membaca kitabullah (al qur’an) dengan mudah,namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama bagaikananak panah yang meleset dari sasarannya (keliru paham dan sulit taubatnya).(HR. Muslim : 2500)

Beliau saw juga bersabda :”Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai)membaca Al qur’an namun bacaan mereka tidak melewati kerongkongannya. Setiapkali muncul sekelompok dari mereka “PASTI TERTUMPAS”.
Dalam satu riwayat Ibnu Umar ra, berkata :”Saya mendengar Rasulullah sawmengulang kalimat “setiap kali muncul sekelompok dari mereka pasti tertumpas”lebih dari 20 kali. Hingga Beliau saw bersabda :”Sampai muncul Dajjal dalam barisan mereka.” (HR. Ibnu Majah).

Bandingkandengan al jama`ah ( aswaja/sunni/aswdul adzom ) yang pahamnya menyepakati langsung dari pendapat para imam madzab yang kesemuanya generasi awal dan utama ( mereka ulama besar tabiin dan tabiun setelah sahabat).dan pahamatau pendapat para generasi utama ini disampaikan secara berangkai pula hinggasekarang dengan tetap menjaga tingkat originalnya(Amanah Ilmu).maka itulahpentingnya bersanad ilmu agar tetap sebagaimana aslinya dan tentu para ulamayang dipandang tsiqoh,tidak cacat ahklak dan berani bertanggung jawab dihadapan Allah dalam menjaga sanad ilmu darigenerasi sebelumnya.

Ulama ulama inilah yang menjadipanutan al jama`ah (aswaja/sunni/aswadul adzom) dengan berguru secara langsung pada mereka.dan sudah barangtentu pula para ulamanya banyak sekali dan saling sepakat satu sama lain(ijma).jadi tidak mengandalkan segelintir ulama seperti seperti sekte/firgohnamun secara luas semua ulama besaraswadul adzom/mayoritas yang menjalin satu kesepakatan atau satu suara dengan pandapat yang sama pula karna satusama lain terhubung sanad walaupun ia berada di semua Negara belahan dunia.(ijma).
maka tidak heran jika ahlussunnah wal`jama`ah atau aswaja atau sunni adalah jumlah paling mayoritas(terbanyak pengikutnya dari semua pemeluk islamkarna satu paham khususnya ilmu akidah. Dan para ulamanya tersebar di semuatempat diseluruh dunia dan jumlahnya jutaan ulama yang rata rata ahlidibidangnya.dan diteruskan oleh murid murid yang juga berani bertanggung jawab dan amanah dalam hal sanad ilmumereka. Maka sudah barang tentu berapapunbanyaknya sekte/firgoh yang muncul tidak akan berpengaruh atas kebesaranaswadul adzom/aswaja atau pengikut mayoritas dan itu dibuktikan berabad abadsampai sekarang .Subhanallah,Allahuakbar !! janji Allah dan Rasulullahbenar adanya.

“إِنَّ اللهَ لَا يُجْمِعُ أُمَّةِ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ”

“Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatkudiatas kesesatan. DAN DITANGAN ALLAHBERSAMA AL JAMA’AH. Barangsiapa yang menyelewengkan, maka ia menyeleweng keneraka“. (HR. Tirmidzi: 2168). “Barangsiapa yang menolak sunnahku maka bukandari golonganku” (Shahih Bukhari).

sesungguhnya menurut Ulama besar Al-Allamah asy-Syinqithi , “Telah dimaklumibahwa para nabi r dan para sahabatnya adalah orang yang berilmu tentangAllah dan paling mengetahui tentanghak-hak dan sifat-sifat-Nya, serta pengagungan yang menjadi hak Allah.Bersamaan dengan itu, mereka menjadi hamba yang paling banyak ibadahnya kepadaAllah l dan yang paling takut serta berharap mendapat rahmat-Nya.” (AdhwaulBayan, 2/325)

Tumbuhnyarasa khasy-yatullah dalam diri seorang hamba akan memberikan pengaruh padakeimanan dan amalannya. Di antara pengaruh tersebut adalah:

1. Ia akansemakin giat menjalankan ibadah dengan penuh rasa takut dan berharap.

2. Ia akan meninggalkan kemaksiatan baik di keramaian maupun saat sendirian.(dalamabad modern ini,dunia internet atau real baginya sama saja,Tuhan tidak lalaidengan maksiat atau berbohong walau hanya seujung kuku,jika diFB atau twitternama palsu.fhoto palsu.akun palsu tidak lepas dari pangawasanNya dan orangtakut maksiat dan takut Allah tentu akansangat hati hati.pen )

3. Senantiasa mengingat Allahl dengan berzikir, membaca al-Qur’an, dan yangsemisalnya.

4. Tidak memasukkan ke dalam perutnya sesuatu yang diharamkan oleh Allah.

5. Merasa yakin dengan apa yang dijanjikan oleh Allah l berupa kenikmatan bagiorang yang bertakwa dan siksaan bagi yang durhaka.

6. Tidak berkata tanpa ilmu yang jelas sumber aslinya dalam urusan agama karna jika salahsesungguhnya menjerumuskan dirinya sendri kedalam neraka dan ia tidakmenyadarinya.karna jika ia lalai maka ia bisa memfintah orang dengan hanya bermodaldangkalnya ilmunya yang ia dapat dari orang lain yang juga bukan ahlinya.

7.Amanah dalam setiap titipan Allah baik berupa harta,kedudukan dan keluarga

8. Berlaku zuhud,qona`ah , tawadhu, tawakkal dalam setiap persoalan yang diujiAllah atas dirinya

9.tidak mencela amal ibadah orang lainkecuali hanya bermaksud meluruskan apa yang keliru dan tentunya denganpengetahuan yang cukup.(point.6 dan rangkaian uraian sebelumnya)

Belajarlahdengan Sanad

tujuan sanad pada awalnya untukmemastikan kesahihan riwayat, namun ilmu sanadkemudiannya berkembang sama seperti ilmu-ilmu islam yang lain, sehingga iamenjadi suatu seni yang tersendiri.
Periwayatan secara bersanad diteruskan kerana ia adalah satu kemuliaan dankeistimewaan yang dapat dilihat dari sudut-sudut berikut;
1.merupakan pertalian yang bersambung-sambung sampai kepada rasulullah saw( وكفى في الاتصال بالحبيب شرفاً(.
2.merupakaniqtida’(tauladan) terhadap para salafus-soleh dalam tradisi belajardan mengajar( إنّ التشبه بالكرام فلاح(.
3.merupakan satu jati diri dan ikatan ilmu yang hanya dimiliki oleh umat islam,maka ia adalah satu kebanggaan buat mereka( الإسنادمن الدين(.
4.merupakan satu usaha berterusan memelihara persambungan sanad hingga ke harikiamat( إن الأسانيد أنساب الكتب(.
5.merupakan satu rahmat dan barakah( عندذكر الصالحين تنزل الرحمة ).

berkata Imam Syafii :“Orang yang belajar ilmutanpa sanad guru bagaikan orangyang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakaryang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” (Faidhul Qadir juz 1 hal433)

artinya orang semacam ini bisa saja berilmu namun ilmu yang ia dapat darisumber yang tidak valid,terputus sanad.dan ia tidak tahu jika itu pengatahuan itu salah namun menganggap apayang ia pahami adalah benar.ia tidak tahu ular berbisa yang suatu ketikameracuninya.

Berkata pulaImam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak
punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”,

artinya ketika sesorang memahmi agamadengan hanya outodidak,belajar dengan para ulama yang juga tidak punyasanad,maka apapun yang ia kemukakan kebanyakan akan menimbulkan pertentangandengan pengetahuan yang lain yang juga punya sumber yang sama (hadits danquran).jika sudah begini apakah yang akan kita andalkan untuk berperang (jidal)jika pendapat kita sendiri berbenturan dengan dalil lain yang juga sahih ??

berkata pulaImam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atapnamun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad”(Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

Artinya ketika kita tidakmemiliki sumber pedoman yang jelas dari para ulama credible yang terpercaya(bersanad ilmu yang jelas) maka ibarat kita menaiki sebuah atap gedung takpunya tangga atau tempat naik maka dengan cara apa kita bisa naik ??katakanlahitu bisa namun sudah jelas jalannya akan sangat sulit dan berbahaya.

ini bisa juga dicontohkan ketika ada orang mengajukan pendapat yang jelas dandalil yang kuat maka dengan apa kita membantahnya kecuali mengemukakan alasanyang kabur dan bahkan jadi mengada ada dengan akal sendiri karna tak punyapegangan ( ibarat tak punya tangga buat naik.bingung mau naik dengan caraapa dan sama artinya bingung mau jawab apa selain berkatakata dengan alasan akal pribadi yang nilai sahihnya dipertanyakan)

Pengajian secara bersanad terbagi beberapa kategori, iaitu:talaqqi secarabersanad bagi qiraat (bacaan) al-quran.talaqqi secara bersanad bagi kitab-kitabhadith muktamad, seperti sahih al-bukhari,sahih
muslim,muwatta ’ malikdan sebagainya.talaqqi secara bersanad bagi himpunanhadith-hadith tertentu, seperti nal-awa’il al-sunbuliyyah, atau hadith-hadithtertentu, seperti hadith musalsal.talaqqi secara bersanad bagi kitab-kitab karangan ulama dalam berbagaibidang ilmu, seperti fiqh, usul-fiqh, tauhid, tafsir, sirah, hadith,mustalahul-hadith, tasawuf dan sebagainya.ilmu agama jangan dianggap semudah yangdikira dengan cukup pandai sholat wajib dan pandai hal yang sudah marfum.

Seorang yang mempelajari secara mendalam, akan mendapati dalam ilmu ulumul-hadith menjelaskan tentang ilmual-tahammul wal-ada ’(pembawaandan penyampaian riwayat), serta menejelaskantentang adab-adab,aturan muhaddithdan juga penuntut hadith. Perkara inidapat dirujuk dalam kesemua kitab-kitab yang disusun dalam ulumul-hadith. Inimenunjukkan para ulama sejak dahulu mengambil berat mengenai periwayatan sanadagar tidak keliru.biasanya secara mendalam akan banyak kita pahami dari pondok pesantren yang sudah mumpuni dan berdiri sejak lama bukan pondok pesantren yang baru didirikan dimanaulamanya ada yang sudah terkontaminasi dengan syariat baru.Dalam bebarapa halada banyak pula disiplin ilmu agama yang tidak kita ketemukan dalamuniversitas Islam secara umum dan sekalilagi bukan patokan alumni universitasbla bla itu ahlinya.(lihat uraian sebelumnya)

Semoga dengan tulisan sederhana ini menjadikan diri kita semua lebih giat lagibelajar agama,focus dan teliti dengan sungguh sungguh,hati hati menyikapi para ulamayang terkadang tidak pantas disebut ulama dan jugasebagai renungan bagi diri pribadi penulis yang juga masih dangkal pengetahuan danmasih tetap terus belajar dengan para ahlinya sebagai pembimbing ( Ulama bersanad.pen)

“pengatehuan agama lebih penting karna kita akan mati walau tidak menafikanbahwa pengetahuan duniawi juga perlu”

INTAHA

Salam santunku dan salam hormatku pada semua guru guruku,parasahabat ahliagama,cendiakawan muslim,saudaraku saudaraku ahli sejarah Islam yang banyak memberikan masukan,pakar pakar tasyawub seakidah dan ulama ulama Ahlussunnah wal jama`ah(aswaja/sunni/aswadul adzom) mayoritas yang kesemuanya berakidah “Allah ada tanpa tempatdan tidak berarah”

by.Von Edison Alouisci
Ditulisdari kompleks nan indah obyek Wisata DanauRanau 9 may 2013

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 14, 2013 in Uncategorized

 

ALLAH MAHA BIJAKSANA DALAM BERPUASA HAMBA-NYA


Oleh Von Edison Alouisci

[1]. Musafir

Banyak hadits shahih membolehkan musafir untuk tidak puasa, kita tidak lupa bahwa rahmat ini disebutkan di tengah-tengah kitab-Nya yang Mulia, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berfirman.

“Artinya : Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

Hamzah bin Amr Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apakah boleh aku berpuasa dalam safar ?” -dia banyak melakukan safar- maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Berpuasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau” [Hadits Riwayat Bukhari 4/156 dan Muslim 1121]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, orang yang puasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa” [Hadits Riwayat Bukhari 4/163 dan Muslim 1118]

Hadits-hadits ini menunjukkan bolehnya memilih, tidak menentukan mana yang afdhal, namun mungkin kita (bisa) menyatakan bahwa yang afdah adalah berbuka berdasarkan hadits-hadits yang umum, seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai didatanginya rukhsah yang diberikan, sebagaimana Dia membenci orang yang melakukan maksiat” [Hadits Riwayat Ahmad 2/108, Ibnu Hibban 2742 dari Ibnu Umar dengan sanadnya yang Shahih]

Dalam riwayat lain disebutkan :

“Artinya : Sebagaimana Allah menyukai diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan” [1]

Tetapi mungkin hal ini dibatasi bagi orang yang tidak merasa berat dalam mengqadha’ dan menunaikannya, agar rukhshah tersebut tidak melenceng dari maksudnya. Hal ini telah dijelaskan dengan gamblang dalam satu riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu.

“Para sahabat berpendapat barangsiapa yang merasa kuat kemudian puasa (maka) itu baik (baginya), dan barangsiapa yang merasa lemah kemudian berbuka (maka) itu baik (baginya)” [2]

Ketahuilah saudaraku seiman -mudah-mudahan Allah membimbingmu ke jalan petunjuk dan ketaqwaan serta memberikan rizki berupa pemahaman agama- sesungguhnya puasa dalam safar, jika memberatkan hamba bukanlah suatu kebajikan sedikitpun, tetapi berbuka lebih utama dan lebih dicintai Allah. Yang mejelaskan masalah ini adalah riwayat dari beberapa orang sahabat, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

“Artinya : Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar” [Hadits Riwayat Bukhari 4/161 dan Muslim 1110 dari Jabir]

Peringatan :
Sebagian orang ada yang menyangka bahwa pada zaman kita sekarang ini tidak diperbolehkan berbuka, sehingga (berakibat ada yang) mencela orang yang mengambil rukhsah tersebut, atau berpendapat bahwa puasa itu lebih baik karena mudah dan banyaknya sarana transportasi saat ini. Orang-orang seperti ini perlu kita usik ingatan mereka kepada firman Allah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan nyata :

“Artinya : Dan tidaklah Tuhanmu lupa” [Maryam : 64]

Dan juga firman-Nya.

“Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” [Al-Baqarah : 232]

Dan firman-Nya di tengah ayat tentang rukhshah berbuka dalam safar.

“Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

Yakni, kemudahan bagi orang yang safar adalah perkara yang diinginkan, ini termasuk salah satu tujuan syar’iat. Cukup bagimu bahwa Dzat yang mensyari’atkan agama ini adalah pencipta zaman, tempat dan manusia. Dia lebih mengetahui kebutuhan manusia dan apa yang bermanfaat bagi mereka. Allah berfirman.

“Artinya : Apakah Allah Yang Menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan) ; dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui ?” [Al-Mulk : 14]

Aku bawakan masalah ini agar seorang muslim tahu jika Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan suatu perkara, tidak ada pilihan lain bagi manusia, bahkan Allah memuji hamba-hamba-Nya yang mukmin yang tidak mendahulukan perkataan manusia di atas perkataan Allah dan Rasul-Nya.

“Artinya : Kami dengar dan kami taat, (Mereka berdo’a) : “Ampunilah kami yang Tuhan kami dan kepada Engkau-lah tempat kembali” [Al-Baqarah : 285]

[2]. Sakit

Allah membolehkan orang yang sakit untuk berbuka sebagai rahmat dari-Nya, dan kemudahan bagi orang yang sakit tersebut. Sakit yang membolehkan berbuka adalah sakit yang apabila dibawa berpuasa akan menyebabkan suatu madharat atau menjadi semakin parah penyakitnya atau dikhawatirkan terlambat kesembuhannya. Wallahu a’alam

[3]. Haid dan Nifas

Ahlul ilmi telah bersepakat bahwa orang yang haid dan nifas tidak dihalalkan berpuasa, keduanya harus berbuka dan mengqadha, kalaupun keduanya puasa (maka puasanya) tidak sah. Akan datang penjelasannya, insya Allah.

[4]. Kakek dan Nenek Yang Sudah Lanjut Usia

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Kakek dan nenek yang lanjut usia, yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin”[3]

Diriwayatkan oleh Daruquthni (2/207) dan dishahihkannya, dari jalan Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas, beliau membaca ayat :

“Artinya : Orang-orang yang tidak mampu puasa harus mengeluarkan fidyah makan bagi orang miskin” [Al-Baqarah : 184]

Kemudian beliau berkata : “Yakni lelaki tua yang tidak mampu puasa dan kemudian berbuka, harus memberi makan seorang miskin setiap harinya 1/2 gantang gandum” [Lihat ta’liq barusan]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Barangsiapa yang mencapai usia lanjut dan tidak mampu puasa Ramadhan, harus mengeluarkan setiap harinya satu mud gandum” [Hadits Riwayat Daruquthni 2/208 dalam sanadnya ada Abdullah bin Shalih dia dhaif, tapi punya syahid]

Dari Anas bin Malik (bahwa) beliau lemah (tidak mampu untuk puasa) pada satu tahun, kemudian beliau membuat satu wadah Tsarid dan mengundang 30 orang miskin (untuk makan) hingga mereka kenyang. [Hadits Riwayat Daruquthni 2/207, sanadnya Shahih]

[5]. Wanita Hamil dan Menyusui

Di antara rahmat Allah yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang lemah adalah Allah memberi rukhsah (keringanan) pada mereka untuk berbuka, dan diantara mereka adalah wanita hamil dan menyusui.

Dari Anas bin Malik [4], ia berkata :

“Kudanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami, akupun mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku temukan beliau sedang makan pagi, beliau bersabda, “Mendekatlah, aku akan ceritakan kepadamu tentang masalah puasa. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala menggugurkan 1/2 shalat atas orang musafir, menggugurkan atas orang hamil dan menyusui kewajiban puasa”. Demi Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengucapkan keduanya atau salah satunya. Aduhai sesalnya jiwaku, kenapa aku tidak (mau) makan makanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Hadits Riwayat Tirmidzi 715, Nasa’i 4/180, Abu Daud 3408, Ibnu Majah 16687. Sanadnya Hasan sebagaimana pernyataan Tirmidzi]

Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan
_________
Foote Note.
[1]. Hadits Riwayat Ibnu Hibban 364, Al-Bazzar 990, At-Thabrani dalam Al-Kabir 11881 dari Ibnu Abbas dengan sanad yang Shahih. Dalam hadits -dengan dua lafadz ini- ada pembicaraan yang panjang, namun bukan di sini tempat menjelaskannya
[2]. Hadits Riwayat Tirmidzi 713, Al-Baghawi 1763 dari Abu Said, sanadnya Shahih walaupun dalam sanadnya ada Al-Jurairi, riwayat Abul A’la darinya termasuk riwayat yang paling Shahih sebagaimana dikatakan oleh Al-Ijili dan lainnya.
[3]. Hadits Riwayat Bukhari 4505, Lihat Syarhus Sunnah 6/316, Fathul bari 8/180. Nailul Authar 4/315. Irwaul Ghalil 4/22-25. Ibnul Mundzir menukil dalam Al-Ijma’ no. 129 akan adanya ijma (kesepakatan) dalam masalah ini.
[4]. Dia adalah Al-Ka’bi, bukan Anas bin Malik Al-Anshari pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ia adalah seorang pria dari bani Abdullah bin Ka’ab, pernah tinggal di Bashrah, beliau hanya meriwayatkan satu hadits saja dari Nabi, yakni hadits di atas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2011 in Puasa

 

SOAL S A H U R


1]. Hikmahnya

Allah mewajibkan puasa kepada kita sebagaimana telah mewajibkan kepada orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab. Allah berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” [Al-Baqarah : 183]

Waktu dan hukumnya pun sesuai dengan apa yang diwajibkan pada Ahlul Kitab, yakni tidak boleh makan dan minum dan menikah (jima’) setelah tidur. Yaitu jika salah seorang dari mereka tidur, tidak boleh makan hingga malam selanjutnya, demikian pula diwajibkan atas kaum muslimin sebagaimana telah kami terangkan di muka [1] karena dihapus hukum tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh makan sahur sebagai pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab.

Dari Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sllam bersabda.

“Artinya : Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur” [Hadits Riwayat Muslim 1096]

[2]. Keutamaannya

[a] Makan Sahur Adalah Barokah.
Dari Salman Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barokah itu ada pada tiga perkara : Al-Jama’ah, Ats-Tsarid dan makan Sahur” [2]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menjadikan barokah pada makan sahur dan takaran” [3]

Dari Abdullah bin Al-Harits dari seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Aku masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu beliau sedang makan sahur, beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya makan sahur adalah barakah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan'” [Hadits Riwayat Nasa’i 4/145 dan Ahmad 5/270 sanadnya SHAHIH]

Keberadaan sahur sebagai barakah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menguatkan dalam puasa, menambah semangat untuk menambah puasa karena merasa ringan orang yang puasa.

Dalam makan sahur juga (berarti) menyelisihi Ahlul Kitab, karena mereka tidak melakukan makan sahur. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakannya dengan makan pagi yang diberkahi sebagaimana dalam dua hadits Al-Irbath bin Syariyah dan Abu Darda ‘Radhiyallahu ‘anhuma.

“Artinya : Marilah menuju makan pagi yang diberkahi, yakni sahur” [4]

[b]. Allah dan Malaikat-Nya Bershalawat Kepada Orang-Orang yang Sahur.
Mungkin barakah sahur yang tersebar adalah (karena) Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meliputi orang-orang yang sahur dengan ampunan-Nya, memenuhi mereka dengan rahmat-Nya, malaikat Allah memintakan ampunan bagi mereka, berdo’a kepada Allah agar mema’afkan mereka agar mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah di bulan Ramadhan.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sahur itu makanan yang barakah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk setengah air, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur” [Telah lewat Takhrijnya]

Oleh sebab itu seorang muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala yang besar ini dari Rabb Yang Maha Pengasih. Dan sahurnya seorang muslim yang paling afdhal adalah korma.

Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma” [5]

Barangsiapa yang tidak menemukan korma, hendaknya bersungguh-sungguh untuk bersahur walau hanya dengan meneguk satu teguk air, karena keutamaan yang disebutkan tadi, dan karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air” [Telah lewat Takhrijnya]

[3]. Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu melakukan sahur, ketika selesai makan sahur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk shalat subuh, dan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat kira-kira lamanya seseorang membaca lima puluh ayat di Kitabullah.

Anas Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu.

“Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau shalat” Aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur’an”[6]

Ketahuilah wahai hamba Allah -mudah-mudahan Allah membimbingmu- kalian diperbolehkan makan, minum, jima’ selama (dalam keadaan) ragu fajar telah terbit atau belum, dan Allah serta Rasul-Nya telah menerangkan batasan-batasannya sehingga menjadi jelas, karena Allah Jalla Sya’nuhu mema’afkan kesalahan, kelupaan serta membolehkan makan, minum dan jima, selama belum ada kejelasan, sedangkan orang yang masih ragu (dan) belum mendapat penjelasan. Sesunguhnya kejelasan adalah satu keyakinan yang tidak ada keraguan lagi. Jelaslah.

[4]. Hukumnya

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya – dengan perintah yang sangat ditekankan-. Beliau bersabda.
“Artinya : Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu” [7]
Dan beliau bersabda.

“Artinya : Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada barakah” [Hadits Riwayat Bukhari 4/120, Muslim 1095 dari Anas]

Kemudian beliau menjelaskan tingginya nilai sahur bagi umatnya, beliau bersabda.

“Artinya : Pembeda antara puasa kami dan Ahlul Kitab adalah makan sahur” [Telah lewat Takhrijnya]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang meninggalkannya, beliau bersabda.

“Artinya : Sahur adalah makanan yang barakah, janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya meminum seteguk air karena Allah dan Malaikat-Nya memberi sahalawat kepada orang-orang yang sahur” [8]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sahurlah kalian walaupun dengan seteguk air” [9]

Saya katakan : Kami berpendapat perintah Nabi ini sangat ditekankan anjurannya, hal ini terlihat dari tiga sisi.

Perintahnya.
Sahur adalah syiarnya puasa seorang muslim, dan pemisah antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab

Larangan meninggalkan sahur.
Inilah qarinah yang kuat dan dalil yang jelas.

Walaupun demikian, Al-Hafidz Ibnu Hajar menukilkan dalam kitabnya Fathul Bari 4/139 : Ijma atas sunnahnya. Wallahu ‘alam.

poote Note.
[1]. Lihat sebagai tambahan tafsir-tafsir berikut : Zadul Masir 1/184 oleh Ibnul Jauzi, Tafsir Quranil ‘Adhim 1/213-214 oleh Ibnu Katsir, Ad-Durul Mantsur 1/120-121 karya Imam Suyuthi.
[2]. Hadits Riwayat Thabrani dalam Al-Kabir 5127, Abu Nu’aim dalam Dzikru Akhbar AShbahan 1/57 dari Salman Al-Farisi Al-Haitsami berkata Al-Majma 3/151 dalam sanadnya ada Abu Abdullah Al-bashiri, Adz-Dzahabi berkata : “Tidak dikenal, peawi lainnya Tsiqat. Hadits ini mempunyai syahid dalam riwayat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Munadih Auhumul Sam’i watafriq 1/203, sanadnya hasan.
[3]. Hadits Riwayat As-Syirazy (Al-Alqzb) sebagaimana dalam Jami’us Shagir 1715 dan Al-Khatib dalam Al-Muwaddih 1/263 dari Abu Hurairah dengan sanad yang lalu. Hadits ini HASAN sebagai syawahid dan didukung oleh riwayat sebelumnya. Al-Manawi memutihkannya dalam Fawaidul Qadir 2/223, sepertinya ia belum menemukan sanadnya.!!
[4]. Adapun hadits Al-Irbath diriwayatkan oleh Ahmad 4/126 dan Abu Daud 2/303, Nasa’i 4/145 dari jalan Yunus bin Saif dari Al-Harits bin ZIyad dari Abi Rahm dari Irbath. Al-Harits majhul. Sedangkan hadits Abu Darda diriwayatkan oleh Ibnu Hibban 223-Mawarid dari jalan Amr bin Al-Harits dari Abdullah bin Salam dari Risydin bin Sa’ad. Risydin dhaif. Hadits ini ada syahidnya dari hadits Al-Migdam bin Ma’dikarib. Diriwayatkan oleh Ahmad 4/133. Nasaai 4/146 sanadnya shahih, kalau selamat dari Baqiyah karena dia menegaskan hadits dari syaikhya! Akan tetapi apakah itu cukup atau harus tegas-tegas dalam seluruh thabaqat hadits, beliau termasuk mudllis taswiyha?! Maka hadits ini SHAHIH
[5]. Hadits Riwayat Abu Daud 2/303, Ibnu Hibban 223, Baihaqi 4/237 dari jalan Muhammad bin Musa dari Said Al-Maqbari dari Abu Hurairah. Dan sanadnya SHAHIH
[6]. Hadits Riwayat Bukhari 4/118, Muslim 1097, Al-Hafidz berkata dalam Al-Fath 4/238 : “Di antara kebiasaan Arab mengukur waktu dengan amalan mereka, (misal) : kira-kira selama memeras kambing. Fawaqa naqah (waktu antara dua perasan), selama menyembelih onta. Sehingga Zaid pun memakai ukuran lamanya baca mushaf sebagai isyarat dari beliau Radhiyallahu ‘anhu bahwa waktu itu adalah waktu ibadah dan amalan mereka membaca dan mentadhabur Al-Qur’an”. Sekian dengan sedikit perubahan.
[7]. Ibnu Abi Syaibah 3/8, Ahmad 3/367, Abu Ya’la 3/438, Al-Bazzar 1/465 dari jalan Syuraik dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail dari Jabir.
[8]. Hadits Riwayat Ibnu Abi Syaibah 2/8, Ahmad 3/12, 3/44 dari tiga jalan dari Abu Said Al-Khudri. Sebagaimana menguatan yang lain.
[9]. Hadits Riwayat Abu Ya’la 3340 dari Anas, ada kelemahan, didukung oleh hadits Abdullah bin Amr di Ibnu Hibban no.884 padanya ada ‘an-anah Qatadah. Hadits Hasan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2011 in Puasa

 

SAAT/WAKTU BERPUASA

Pada awalnya, para sahabat Nabiyul Ummi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berpuasa dan hadir waktu berbuka mereka makan serta menjima’i isterinya selama belum tidur. Namun jika seseorang dari mereka tidur sebelum menyantap makan malamnya (berbuka), dia tidak boleh melakukan sedikitpun perkara-perkara di atas. Kemudian Allah dengan keluasan rahmat-Nya memberikan rukhshah (keringanan) hingga orang yang tertidur disamakan hukumnya dengan orang yang tidak tidur. Hal ini diterangkan dengan rinci dalam hadits berikut.

“Dahulu sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam jika salah seorang diantara mereka puasa dan tiba waktu berbuka, tetapi tertidur sebelum berbuka, tidak diperbolehkan makan malam dan siangnya hingga sore hari lagi. Sungguh Qais bin Shirmah Al-Anshari pernah berpuasa, ketika tiba waktu berbuka beliau mendatangi isterinya kemudian berkata : “Apakah engkau punya makanan ?” Isterinya menjawab : “Tidak, namun aku akan pergi mencarikan untukmu” Dia bekerja pada hari itu hingga terkantuk-kantuk dan tertidur, ketika isterinya kembali dan melihatnya isterinyapun berkata ” Khaibah”[1] untukmu” Ketika pertengahan hari diapun terbangun, kemudian menceritakan perkara tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga turunlah ayat ini.

“Artinya : Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur (berjima’) dengan isteri-isterimu” [Al-Baqarah : 187]

Dan turun pula firman Allah.

“Artinya : Dan makan minumlah sehingga terang kepadamu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” [Al-Baqarah : 187] [2]

Inilah rahmat Rabbani yang dicurahkan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang berkata : “Kami mendengar dan kami taat wahai Rabb kami, ampunilah dosa kami dan kepada-Mu lah kami kembali” (yakni) dengan memberikan batasan waktu puasa : dimulainya puasa dan waktu berakhirnya. (Puasa) dimulai dari terbitnya fajar hingga hilangnya siang dengan datangnya malam, dengan kata lain hilangnya bundaran matahari di ufuk.

[1]. Benang Putih Dan Benang Hitam.
Ketika turun ayat tersebut sebagian sahabat Nabi Shalallalahu ‘alaihi wa sallam sengaja mengambil iqal (tali) hitam dan putih[3] kemudian mereka letakkan di bawah bantal-bantal mereka, atau merka ikatkan di kaki mereka. Dan mereka terus makan dan minum hingga jelas dalam melihat kedua iqal tersebut (yakni dapat membedakan antara yan putih dari yang hitam-pent).

Dari Adi bin Hatim Radhiyallahu’anhu berkata : Ketika turun ayat.
“Artinya : Sehingga terang kepadamu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” [Al-Baqarah : 187]

Aku mengambil iqal hitam digabungkan dengan iqal putih, aku letakkan di bawah bantalku, kalau malam aku terus melihatnya hingga jelas bagiku, pagi harinya aku pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan padanya perbuatanku tersebut. Baliaupun bersabda.

“Maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang” [4]

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Ketika turun ayat.

“Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam”

Ada seorang pria jika ingin puasa, ia mengikatkan benang hitam dan putih di kakinya, dia terus makan dan minum hingga jelas dalam melihat kedua benang tersebut. Kemudian Allah menurunkan ayat : “(Karena) terbitnya fajar” , mereka akhirnya tahu yang dimaksud adalah hitam (gelapnya) malam dan terang (putihnya) siang. [Hadits Riwayat Bukhari 4/114 dan Muslim 1091]

Setelah penjelasan Qur’ani, sungguh telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya batasan (untuk membedakan) serta sifat-sifat tertentu, hingga tidak ada lagi ruang untuk ragu atau tidak mengetahuinya.

Bagi Allah-lah mutiara penyair.

Tidak benar sedikitpun dalam akal jikalau siang butuh bukti.

[2]. Fajar Ada Dua
Diantara hukum yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penjelasan yang rinci, bahwasanya fajar itu ada dua.

[a]. Fajar Kadzib : Tidak dibolehkan ketika itu shalat shubuh dan belum diharamkan bagi yang berpuasa untuk makan dan minum.

[b]. Fajar Shadiq : Yang mengharamkan makan bagi yang puasa, dan sudah boleh melaksanakan shalat shubuh.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Fajar itu ada dua : Yang pertama tidak mengharamkan makan (bagi yang puasa), tidak halal shalat ketika itu, yang kedua mengharamkan makan dan telah dibolehkan shalat ketika terbit fajar tersebut” [5]

Dan ketahuilah -wahai saudara muslim- bahwa :

[a]. Fajar Kadzib adalah warna putih yang memancar panjang yang menjulang seperti ekor binatang gembalaan.

[b]. Fajar Shadiq adalah warna yang memerah yang bersinar dan tampak di atas puncak bukit dan gunung-gunung, dan tersebar di jalanan dan di jalan raya serta di atap-atap rumah. Fajar inilah yang berkaitan dengan hukum-hukum puasa dan shalat.

Dari Samurah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Janganlah kalian tertipu oleh adzannya Bilal dan jangan pula tertipu oleh warna putih yang memancar ke atas sampai melintang” [Hadits Riwayat Muslim 1094]

Dari Thalq bin Ali, (bahwasanya) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Makan dan minumlah, jangan kalian tertipu oleh fajar yang memancar ke atas. Makan dan minumlah sampai warna merah membentang” [6]

Ketahuilah -mudah-mudahan engkau diberi taufiq untuk mentaati Rabbmu- bahwasanya sifat-sifat fajar shadiq adalah yang bercocokan dengan ayat yang mulia.

“Artinya : Hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar”

Karena cahaya fajar jika membentang di ufuk atas lembah dan gunung-ghunung akan tampak seperti benang putih, dan akan tampak di atasnya benang hitam yakni sisa-sisa kegelapan malam yang pergi menghilang.

Jika telah jelas hal tersebut padamu berhentilah dari makan, minum dan berjima’. Kalau di tanganmu ada gelas berisi air atau minuman, minumlah dengan tenang, karena itu merupakan rukhshah (keringanan) yang besar dari Dzat Yang Paling Pengasih kepada hamba-hamba-Nya yang puasa. Minumlah walaupun engkau telah mendengar adzan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Jika salah seorang dari kalian mendengar adzan padahal gelas ada di tangannya, janganlah ia letakkan hingga memenuhi hajatnya” [7]

Yang dimaksud adzan dalam hadits di atas adalah adzan subuh yang kedua karena telah terbitnya Fajar Shadiq dengan dalil tambahan riwayat, yang diriwayatkan oleh Ahmad 2/510, Ibnu Jarir At-Thabari 2/102 dan selain keduanya setelah hadits di atas.

“Artinya : Dahulu seorang muadzin melakukan adzan ketika terbit fajar” [8]

Yang mendukung makna seperti ini adalah riwayat Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Telah dikumandangkan iqamah shalat, ketika itu di tangan Umar masih ada gelas, dia berkata : ‘Boleh aku meminumnya ya Rasulullah ?’ Rasulullah bersabda : “Ya’ minumlah” [Hadits Riwayat Ibnu Jarir 2/102 dari dua jalan dari Abu Umamah]

Jelaslah bahwa menghentikan makan sebelum terbit Fajar Shadiq dengan dalih hati-hati adalah perbuatan bid’ah yang diada-adakan.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata dalam Al-Fath 4/199 : “Termasuk perbuatan bid’ah yang mungkar adalah yang diada-adakan pada zaman ini, yaitu mengumandangkan adzan kedua sepertiga jam sebelum waktunya di bulan Ramadhan, serta memadamkan lampu-lampu yang dijadikan sebagai tanda telah haramnya makan dan minum bagi orang yang mau puasa, mereka mengaku perbuatan ini dalam rangka ikhtiyath (hati-hati) dalam ibadah, tidak ada yang mengetahuinya kecuali beberapa gelintir manusia saja, hal ini telah menyeret mereka hingga melakukan adzan ketika telah terbenam matahari beberapa derajat untuk meyakinkan telah masuknya waktu -itu sangkaan mereka- mereka mengakhirkan berbuka dan menyegerakan sahur hingga menyelisihi sunnah. Oleh karena itu sedikit pada mereka kebaikan dan banyak tersebar kejahatan pada mereka. Allahul musta’an”.

Kami katakan : Bid’ah ini, yakni menghentikan makan (imsak) sebelum fajar dan mengakhirkan waktu berbuka, tetap ada dan terus berlangsung di zaman ini. Kepada Allah-lah kita mengadu.

[3]. Menyempurnakan Puasa Hingga Malam
Jika telah datang malam dari arah timur, menghilangkan siang dari arah barat dan matahari telah terbenam bebukalah orang yang puasa.

Dari Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Jika malam datang dari sini, siang menghilang dari sini dan terbenam matahari, telah berbukalah orang yang puasa” [9]

Hal ini terwujud setelah terbenamnya matahari, walaupun sinarnya masih ada. Termasuk petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau puasa menyuruh seseorang untuk naik ke satu ketinggian, jika orang itu berkata : “Matahari telah terbenam”, beliaupun berbuka [10]

Sebagian orang menyangka malam itu tidak terwujud langsung setelah terbenamnya matahari, tapi masuknya malam setelah kegelapan menyebar di timur dan di barat. Sangkaan seperti ini pernah terjadi pada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mereka diberi pemahaman bahwa cukup dengan adanya awal gelap dari timur setelah hilangnya bundaran matahari.

Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu ‘anhu : “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu safar (perjalanan), ketika itu kami sedang berpuasa (di bulan Ramadhan). Ketika terbenam matahari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sebagian kaum : “Wahai Fulan (dalam riwayat Abu Daud : Wahai Bilal) berdirilah, ambilkan kami air”. Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, kalau engkau tunggu hingga sore”, dalam riwayat lain : matahari). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Turun, ambilkan air”. Bilal pun turun, kemudian Nabi minum. Beliau bersabda, “Kalau kalian melihatnya niscaya akan kalian lihat dari atas onta, yakni matahari”. Kemudian beliau melemparkan (dalam riwayat lain : berisyarat dengan tanganya) (Dalam riwayat Bukhari- Muslim : berisyarat degan telunjuknya ke arah kiblat) kemudian berkata : “Jika kalian melihat malam telah datang dari sini maka telah berbuka orang yang puasa. [11]

Telah ada riwayat yang menegaskan bahwa para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti perkataannya, dan perbuatan mereka sesuai dengan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Said Al-Khudri berbuka ketika tenggelam (hilangnya) bundaran matahari. [12]

Peringatan :
Hukum-hukum puasa yang diterangkan tadi berkaitan dengan pandangan mata manusia, tidak boleh bertakalluf atau berlebihan dengan mengintai hilal dan mengawasi dengan alat-alat perbintangan yang baru atau berpegangan dengan penanggalan ahli nujum yang menyelewengkan kaum muslimin dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga menjadi sebab sedikitnya kebaikan pada mereka [13] Wallahu a’alam.

Peringatan Kedua :
Di sebagian negeri Islam para muadzin menggunakan jadwal-jadwal waktu shalat yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun !! Hingga mereka mengakhirkan berbuka puasa dan menyegerakan sahur, akhirnya mereka menentang petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Di negeri-negeri seperti ini ada sekelompok orang yang bersemangat dalam mengamalkan sunnah dengan berbuka berpedoman pada matahari dan sahur berpedoman fajar. Jika terbenam matahari mereka berbuka, jika terbit fajar shadiq -sebagaimana telah dijelaskan- mereka menghentikan makan dan minum. Inilah perbuatan syar’i yang shahih, tidak diragukan lagi. Barangsiapa yang menyangka mereka menyelisihi sunnah, ia telah berprasangka dengan sangkaan yang salah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Jelaslah, ibadah puasa berkaitan dengan matahari dan fajar, jika ada orang yang menyelisihi kaidah ini, mereka telah salah, bukan orang yang berpegang dengan ushul dan mengamalkannya. Adzan adalah pemberitahuan masuknya waktu, (dan) tetap mengamalkan ushul yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib. Camkanlah ini dan pahamilah.!

Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan
_________
Foote Note.
[1] Dari Al-Khaibah yaitu yang diharamkan, dikatakan khoba yakhibu jika tidak mendapat permintaannya mencapai tujuannya
[2] Hadits Riwayat Bukhari 4/911
[3] Iqal yaitu tali yang dipakai untuk mengikat unta, Mashabih 2/422
[4] Hadits Riwayat Bukhari 4/113 dan Muslim 1090, dhahir ayat ini bahwa Adi dulunya hadirs ketika turun ayat ini, berarti telah Islam, tetapi tidak demikian, karena diwajibkannya puasa tahun kedua dari hijrah, Adi masuk Islam tahun sembilan atau kesepuluh, adapun tafsir Adi ketika turun : yakni ketika aku masuk Islam dan dibacakan surat ini kepadaku, inilah yang rajih sebagaimana riwayat Ahmad 4/377 : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari shalat dan puasa, beliau berkata : “Shalatlah begini dan begini dan puasalah, jika terbenam matahri makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dan benang hitam, puasalah tiga puluh hari, kecuali kalau engkau melihat hilal sebelum itu, aku mengambil dua benang dari rambut hitam dan putih….hadits” Al-Fathul 4/132-133 denan perubahan
[5] Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/210, Al-Hakim 1/191 dan 495, Daruquthni 2/165, Baihaqi 4/261 dari jalan Sufyan dari Ibnu Juraij dari Atha dari Ibnu Abbas, Sanadnya SHAHIH. Juga ada syahid dari Jabir, diriwayatkan oleh Hakim 1/191, Baihaqi 4/215, Daruquthni 2/165, Diikhtilafkan maushil atau mursal, dan syahid dari Tsauban, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 3/27.
[6] Hadits Riwayat Tirmidzi 3/76, Abu Daud 2/304, Ahmad 4/66, Ibnu Khuzaimah 3/211 dari jalan Abdullah bin Nu’man dari Qais bin Thalaq dari bapaknya, sanadnya Shahih. Abdullah bin Nu’man dianggap tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban dan Al-Ajali. Ibnu Khuzaimah tidak tahu keadilannya. Ibnu Hajar berkata Maqbul!!
[7] Hadits Riwayat Abu Daud 235, Ibnu Jarir 3115. Al-Hakim 1/426, Al-Baihaqi 2/218, Ahmad 3/423 dari jalan Hamad dari Muhammad bin Amir dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, sanadnya HASAN. Ada jalan lain diriwayatkan oleh Ahmad 2/510, Hakim 1/203,205 dari jalan Hammad dari Amr bin Abi Amaran dari Abu Hurairah, sanadnya SHAHIH
[8] Riwayat tambahan ini membatalkan ta’liq Syaikh Habiburrahman Al-Adhami Al-Hanafi terhadap Mushannaf Abdur Razaq 4/173 ketika berkata : “Ini dimungkinkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya muadzin adzan sebelum terbit fajar!!” Walhamdulillahi wahdah.
[9] Hadits Riwayat Bukhari 4/171, Muslim 1100. Perkataannya : “Telah berbuka orang yang puasa” yakni dari sisi hukum bukan kenyataan karena telah masuk puasa.
[10] Hadits Riwayat Al-Hakim 1/434, Ibnu Khuzaimah 2061, di SHAHIH kan oleh Al-Hakim menurut syarat Bukhari-Muslim. Perkataan Aufa : Yakni naik atau melihat.
[11] Hadits Riwayat Bukhari 4/199, Muslim 1101, Ahmad 4/381, Abu Daud 2352. Tambahan pertama dalam riwayat Muslim 1101. Tambahan kedua dalam riwayat Abdur Razaq 4/226. Perkataan beliau : “Ambilkan segelas air” yakni : siapkan untuk kami minuman dan makanan. Ashal Jadh : (mengaduk) menggerakkan tepung atau susu dengan air dengan menggunakan tongkat (kayu)
[12] Diriwayatkan oleh Bukhari dengan mu’allaq 4/196 dan dimaushulkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 3/12 dan Siad bin Manshur sebagaiman dalam Al-Fath 4/196, Umdatul Qari 9/130, lihat Taghliqut Ta’liq 3/195
[13] Barangsiapa yang ingin tambahan penjelasan dan rincian yang baik akan dia temukan dalam kitab : Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 25/126-202. Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/279 karya Imam Nawawi. Talkhisul Kabir 2/187-188 karya Ibnu Hajar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2011 in Puasa

 

TARGHIB PUASA RAMADHAN

TARGHIB PUASA RAMADHAN

[1]. Pengampunan Dosa

Allah dan Rasul-Nya memberikan targhib (spirit) untuk melakukan puasa Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa, dan kalau seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (bahwasanya) beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [1]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga, -Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

“Artinya : Shalat yang lima waktu, Jum’at ke Jum’at. Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara senggang waktu tersebut jika menjauhi dosa besar” [Hadits Riwayat Muslim 233]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?” Beliau bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan “Amin”, maka akupun mengucapkan Amin….” [2]

[2]. Dikabulkannya Do’a dan Pembebasan Api Neraka

Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam dalam bulan Ramadhan, dan semua orang muslim yang berdo’a akan dikabulkan do’anya” [3]

[3]. Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada

Dari ‘Amr bin Murrah Al-Juhani[4] Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Datang seorang pria kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata : “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, engkau adalah Rasulullah, aku shalat lima waktu, aku tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam harinya, termasuk orang yang manakah aku ?” Beliau menjawab.
“Artinya : Termasuk dari shidiqin dan syuhada” [Hadits Riwayat Ibnu Hibban (no.11 zawaidnya) sanadnya Shahih]

Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan,Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid

Foote Note.
[1] Hadits Riwayat Bukhari 4/99, Muslim 759. Makna “Penuh iman dan Ihtisab’ yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya
[2] Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin
[3] Hadits Riwayat Bazzar 3142, Ahmad 2/254 dari jalan A’mas, dari Abu Shalih dari Jabir, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 1643 darinya secara ringkas dari jalan yang lain, haditsnya Shahih. Do’a yang dikabulkan itu ketika berbuka, sebagaimana akan datang penjelasannya, lihat Misbahuh Azzujajah no. 60 karya Al-Bushri
[4] Lihat Al-Ansab 3/394 karya As-Sam’ani, Al-Lubap 1/317 karya Ibnul Atsir

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2011 in Puasa

 

WAJIBNYA PUASA RAMADHAN

[1]. Barangsiapa Berbuat Kebajikan Dengan Kerelaan Hati, Lebih Baik Baginya

Karena keutamaan-keutamaan di atas, maka Allah mewajibkan kaum muslimin (untuk melakukan ibadah) puasa Ramadhan, karena puasa memutuskan jiwa dari syahwatnya dan menghalangi dari apa yang biasa dilakukan. (Puasa Ramadhan) termasuk perkara yang paling sulit, karena itu kewajibannya-pun diundur sampai tahun kedua hijriyah, setelah hati kaum muslimin kokoh dalam bertauhid dan dalam mengangungkan syiar-syiar Allah, maka Allah membimbing mereka untuk melakukan puasa dengan bertahap. Pada awalnya mereka diberikan pilihan untuk berbuka atau puasa serta diberi semangat untuk puasa, karena puasa masih terasa berat bagi para shahabat -semoga Allah meridhai mereka semuanya-. Barangsiapa yang ingin berbuka kemudian membayar fidyah diperbolehkan, Allah berfirman.

“Artinya : Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya” [Al-Baqarah : 184]

[2]. Barangsiapa yang Mendapatkan Bulan Ramadhan, Hendaknya Berpuasa

Kemudian turunlah kelanjutan ayat tersebut yang menghapuskan hukum di atas, hal ini dikhabarkan oleh dua orang sahabat yang mulia : Abdullah bin Umar dan Salamah bin Al-Akwa’ Radhiyallahu anhuma, keduanya berkata : “Kemudian dihapus oleh ayat :

“Artinya : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” [1] [Al-Baqarah : 185]

Dan dari Ibnu Abi Laila, dia berkata : “Sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepada kami : ‘Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan terasa memberatkan mereka (para sahabat), maka barangsiapa yang tidak mampu diperbolehkan meninggalkan puasa dan memberi makan seorang miskin sebagai keringanan bagi mereka, kemudian hukum ini dihapus oleh ayat : “Berpuasa itu labih baik bagi kalian”, akhirnya mereka disuruh berpuasa”[2]

Sejak itu jadilah puasa salah satu simpanan Islam dan menjadi salah satu rukun agama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Islam dibangun atas lima perkara : Syahadat an la ilaha illallah wa anna Muhamamad rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakatm dan naik haji ke Baitul Haram serta puasa Ramadhan” [Diriwayatkan oleh Bukhari 1/47, Muslim 16 dari Ibnu Umar]

Foote Note
[1] Hadits dari Ibnu Umar dikeluarkan oleh Bukhari 4/188, dan hadits dari Salamah dikeluarkan oleh Bukhar8/181, Muslim 1145
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq (8/181 -Fath), dimausulkan oleh Baihaqi dalam Sunan 4/200, sanadnya Hasan.

Diriwayatkan pula -dengan lafadz yang hampir sama namun panjang- oleh Abu Daud no. 507 dari jalan lain dengan sanad yang Hasan sebagai syawahid.

Juga diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al-Mustakhraj sebagaimana dalam Taghliqut Ta’liq 3/185 dari jalan yang ketiga dengan sanaad yang hasan juga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2011 in Puasa

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 153 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: